HeadlineTulisanVideo

Anggota DPR Sepakat 1.000 Persen BBM Premium Diganti BBM Ramah Lingkungan

0

Anggota Komisi VII DPR RI, Ratna Juwita, mendesak pemerintah menyediakan bahan bakar minyak (BBM) pengganti Premium dengan harga yang terjangkau masyarakat. Hal itu dipaparkan Ratna Juwita menyusul adanya rencana penghapusan BBM oktan rendah jenis Premium yang akan dilakukan oleh pemerintah secara bertahap.

Terkait sinyalemen tingginya emisi gas buang BBM Premium, Ratna Juwita mengaku setuju 1000 persen bila BBM Premium diganti dengan BBM yang lebih ramah lingkungan. “Kami sepakat, Pak, Seribu persen kami sepakat (BBM Premium duganti BBM ramah lingkungan,” kata Ratna Juwita dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM.

Menurut Ratna Juwita, masyarakat tidak akan keberatan jika BBM pengganti Premium ekonomis dan ketersediaan BBM di penyalur bisa dipertanggungjawabkan. “Masyarakat gaduh karena belum mengerti. Jadi, kami mohon bersamaan dengan penghapusan Premium juga dibarengi sosialisasi kepada masyarkat adanya BBM pengganti yang murah,” tegas Ratna Juwita.

Sebelumnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) telah memaparkan bahwa serapan Premium selama Januari sampai Juli 2021 sangat rendah, yakni hanya 2,71 juta kilo liter (kl) atau hanya 27,18% dari kuota tahun ini sebesar 10 juta. Menurut Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga,  Putut Andriatno, penyebab rendahnya serapan Premium karena kesadaran masyarakat dalam penggunaan BBM berkualitas yang sesuai spesifikasi kendaraannya, kini semakin meningkat.

Terkait rendahnya serapan Premium tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif memaparkan, pemerintah berencana menghapus Premium secara bertahap dengan membatasi outlet penjualan Premium. “Sesuai dengan program langit biru Pertamina, outlet penjualan Premium mulai dikurangi pelan-pelan, terutama saat pandemi. Crude (harga minyak mentah) jatuh, substitusi dengan Pertalite,” ungkap Arifin.

Menurut Arifin, banyak negara yang sudah mulai meninggalkan penggunaan Premium yang beroktan rendah. Tercatat, hanya ada empat negara di dunia yang masih mengonsumsi premium dengan RON 88, termasuk Indonesia. Untuk itu, Arifin mengimbau masyarakat untuk beralih memakai bahan bakar yang ramah lingkungan. “Kita tertinggal dari Vietnam yang sudah Euro 4 dan akan masuk ke Euro 5. Kita masih Euro 2,” kata Arifin.

Peralihan ini bertujuan meningkatkan kualitas BBM dan menekan emisi gas. Dalam jangka panjang, perkembangan teknologi kendaraan menuntut kualitas BBM lebih baik. “Kami berharap ada shifting konsumsi ke lebih baik, yakni Pertamax. Kami mohon dukungan bagaimana bisa merespons ini,” imbuhnya.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *