HeadlineTulisan

BBM Premium Sering Diusulkan Dihapus Karena 5 Alasan Ini

0

Rencana menghapus Bahan Bakar Jenis (BBM) Premium sudah sering diusulkan para aktivis lingkungan dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Tapi sampai kini usulan penghapusan Premium itu tidak pernah diwujudkan karena banyak menimbulkan pro-kontra. Kenapa Premium sering diusulkan agar dihapus?

Dalam webinar bertema ‘Dampak Lingkungan dan Sosial Ekonomi Polusi Udara di DKI Jakarta’ yang digelar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terungkap, sedikitnya ada 5 alasan kenapa BBM Premium sering diusulkan dihapus. Berikut rinciannya:

1. Premium Tidak Ramah Lingkungan.

Premium dinilai mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan karena beroktan paling rendah dengan angka Research Octane Number (RON) 88. Premium dinilai tidak sesuai standar emisi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 20 Tahun 2017. Dalam Permen LHK No 20 Tahun 2017 ini, standar baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor  harus sesuai standar Euro4. Sehingga BBM yang digunakan minimal harus memiliki Research Octane Number (RON) 91 untuk mesin bensin dan minimal memiliki Cetane Number (CN) 51 untuk mesin diesel.

2. Lebih Boros dan Gas Buang Lebih Kotor

Premium hanya bisa digunakan untuk mesin bensin dengan rasio kompresi yang rendah. Kerugian mesin bensin dengan rasio kompresi yang rendah adalah power density mesin ikut rendah. Akibatnya, fuel economy tidak optimal serta emisi gas buang lebih kotor.

“Umumnya pabrikan mobil saat ini menggunakan compression ratio yang sudah tinggi. Sudah jarang mobil-mobil modern menggunakan compression ratio yang rendah. Kalau menggunakan compression ratio yang rendah maka power density ikut rendah akibatnya fuel economy yang dinyatakan dalam satuan kilometer per liter (km/L), rendah dan juga emisi gas buang lebih polutif,” jelas Manager Technical and Fuel Retail Marketing PT Pertamina Remigius Choerniadi Tomo.

3. Premium Mudah Merusak Piston

Premium yang dipaksakan untuk mesin bensin dengan rasio kompresi yang tinggi maka akan terjadi knocking atau denotasi yang berakibat pada emisi yang semakin polutif. Selain itu dalam jangka panjang akan merusak piston lantaran daya menurun sehingga mengurangi kenyamanan penumpang.

“Knocking adalah dua tumbukan di dalam ruang bakar sehingga menyebabkan penurunan power pada mesin mobil. Akibat lainnya polusi lebih tinggi dan piston mobil mudah rusak,” sambungnya.

4. Premium Hanya Cocok untuk Mesin Standar Euro1

Premium hanya cocok digunakan untuk mesin bensin dengan teknologi mesin bensin Euro1 yang emisi buangnya sangat polutif. Besaran polusi udara CO (Carbon monoxide), NOx (nitrogen oxides), dan HC (hydrocarbons) yang bisa ditekan jika beralih dari mesin dengan standar emisi Euro1 ke Euro4 sebesar 93,5%.

“Kalau 100 persen bisa dicapai dengan menggunakan mobil listrik. Euro1 adalah paling polutif maka semakin besar Euro-nya maka emisi gas buang semakin bersahabat dengan lingkungan karbon yang dikeluarkan makin rendah,” tutur Choerniadi.

5. Gas Buang Premium Lebih Polutif

BBM jenis Premium jika dipaksakan digunakan di mesin bensin dengan standar emisi Euro3 atau Euro4 maka three-way catalysts-nya yang berfungsi untuk menurunkan emisi hydrocarbons, carbon monoxide, dan nitrogen oxides akan turun efektifitasnya sehingga gas buangnya akan lebih polutif.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *