HeadlineTulisanVideo

Dampak Buruk Emisi Karbon Bisa Rugikan 23 Juta Penduduk Indonesia

0

Salah satu upaya untuk mendukung penurunan emisi karbon sesuai Paris Agreement 2015, Pertamina kini terus gencar menggelar Program Langit Biru dengan mengajak warga menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang lebih ramah lingkungan. Sebab, jika emisi karbon di Indonesia tetap tinggi, maka dampak buruk dari perubahan iklim akibat global warming bisa merugikan sekitar 23 juta penduduk Indonesia.

Manajer Kampanye Keadilan Lingkungan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Yuyun Harmono mengatakan, berdasar proyeksi dari Climate Central, setidaknya 23 juta orang Indonesia akan menerima dampak langsung dari perubahan iklim. “Mereka bakal menjadi pengungsi internal apabila muka air laut naik 0,6 meter sampai 2 meter di akhir abad ini,” paparnya.

Apa itu emisi karbon dan apa dampak buruknya?
Emisi karbon adalah gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran senyawa yang mengandung karbon. Contoh dari emisi karbon ialah CO2, gas pembuangan dari pembakaran bensin, solar, kayu, daun, gas LPG, dan bahan bakar lainnya yang mengandung hidrokarbon. Emisi karbon merupakan salah satu penyumbang pencemaran udara yang berdampak buruk pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Emisi karbon dapat menyebabkan dampak besar seperti perubahan iklim yang tak menentu yang dapat mengakibatkan banjir, kelaparan, hingga ketidakstabilan ekonomi. Selain itu, jika dibiarkan terus menerus, emisi karbon juga bisa mengakibatkan suhu udara meningkat dan menyebabkan pemanasan global. Hal ini tentu sangat berbahaya untuk keberlangsungan hidup makhluk hidup yang ada di Bumi. Oleh karena itu, penting untuk mencegah pemakaian emisi karbon yang berlebihan untuk keberlangsungan hidup yang lebih baik.

Makanya, ketika bumi semakin panas akibat gobal warming (pemanasan global), emisi karbon mulai menjadi sorotan para ilmuan dunia. Masalahnya, gobal warming terbukti telah mengakibatkan perubahan iklim, seperti terjadinya perubahan cuaca jadi tidak menentu, banyak terjadi bencana, bencana kekeringan dan dampak buruk lainnya. Karena itu,  sebanyak 195 negara dunia, termasuk Indonesia, akhirnya menandatangani Paris Agreement 2015 untuk menekan emisi karbon guna mencegah kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celcius.

Untuk mewujudkan komitmen penurunan emisi karbon tersebut, Indonesia telah meratifikasi  Paris Agreement 2015 dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016. Target nasional pengurangan emisi negara atau nationally determined contribution (NDC) di Indonesia adalah 29% dengan upaya sendiri dan 41% dengan bantuan internasional di 2030.

Namun upaya penurunan emisi karbon di Indonesia dinilai kurang optimal. Ketua Yayaysan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, target penurunan karbon sebesar 29% yang dilakukan Indonesia pada 2030 diperkirakan tidak akan tercapai karena masyarakat Indonesia masih gemar menggunakan energi fosil, termasuk BBM kotor sejenis Premium dan Solar.

Sementara Manajer Kampanye Keadilan Lingkungan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yuyun Harmono berpendapat Perjanjian Paris tak cukup mencegah perubahan iklim. “Yang terjadi malah sebaliknya, yaitu kenaikan suhu bumi 3 derajat sampai 4 derajat Celcius. Konsentrasi gas rumah kaca atau GRK dari pemakaian energi fosil secara global belum menunjukkan puncaknya dalam lima tahun terakhir,” paparnya.

Dari 1990 sampai 2019, emisi mencapai 38 gigaton karbondioksida. Angkanya naik rata-rata 0,9% per tahun dalam satu dekade terakhir. Pada 2020, emisi fosil menurun 7% dibandingkan tahun sebelumnya karena pandemi Covid-19 dan perlambatan ekonomi global. “Namun, emisi karbon belum menunjukkan akan mencapai puncak dan konsisten menurun setelahnya,” tulis Yuyun dalam keterangan tertulisnya.

Sementara berdasar laporan IPCC pada 2018 menunjukkan bahwa target 2 derajat Celcius tak cukup menghindari bencana iklim. Perbedaan 0,5 derajat saja dapat menyebabkan konsekuensi fatal bagi bumi. Dampaknya akan lebih parah dirasakan kawasan di belahan bumi selatan, termasuk Indonesia.

Secara geografis, Indonesia sangat rentan dengan pemanasan global yang memicu kenaikan permukaan air laut. Dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan puluhan juta orang hidup di pesisir, risikonya menjadi berlipat ganda.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *