HeadlineTulisan

Direktur IESR: Jenis BBM Indonesia Terlalu Banyak, Perlu Disederhanakan

0

Jenis bahan bakar minyak (BBM) produksi PT. Pertamina yang tersedia di pasaran dinilai terlalu banyak. Sementara pengetahuan masyarakat terhadap kualitas BBM dan teknologi kendaraan masih minim. Akibatnya, masyarakat sering bingung dan hanya memilih BBM berdasar harga yang paling murah tanpa melihat teknologi kendaraannya. Untuk itu, jenis BBM yang dijual di Indonesia perlu disederhanakan.

Hal itu diungkap Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa, dalam diskusi publik tentang “Penggunaan BBM Ramah Lingkungan” yang digelar YLKI bersama KBR.

Diskusi ini digelar terkait adanya fenomena perubahan iklim global (Global Climate Change)  akibat pemanasan suhu bumi yang berdampak buruk bagi manusia. Sementara pada November 2015 lalu, Presiden Jokowi telah menandatangani Paris Protocol terkait kesanggupannya mereduksi emisi gas karbon antara 29-40 persen pada 2050. Untuk mereduksi gas karbon sebagaimana janji Presiden Jokowi pada Protokol Paris (2015), maka target untuk mewujudkan jenis BBM ramah lingkungan menjadi suatu keharusan.

Hanya saja, jika melihat jenis BBM produksi PT. Pertamina terlalu banyak dan sebagian besar masih di bawah standar EURO4. Untuk BBM mesin bensin ada Premium RON88, Pertalite RON90, Pertamax RON92 dan Pertamax Turbo RON98. Sedang untuk BBM mesin diesel ada Solar dengan Cetane Number (CN) 48,  Dexlite CN51 dan Pertamina Dex CN53. “Jadi berbagai produk ini membuat masyarakat bingung,” ujar Fabby Tumiwa.

Di sisi lain, pengetahuan masyarakat terhadap kualitas BBM dan teknologi kendaraan bermotor masih rendah. Padahal, setiap produk kendaraan bermotor untuk tahun tertentu harus menggunakan BBM yang sesuai dengan teknologi kendaraan. Sayangnya, masayarkat belum banyak yang paham tentang hal ini.

Dampaknya, berdasar hasil  observasi Institute for Essential Service Reform, dalam memilih BBM untuk kendaraannya masyarakat hanya melihat berdasar preferensi harga yang termurah dan bukan berdasar teknologi kendaraan yang dipakainya. “Kalau BBM yang tersedia mempunya kualitas yang rendah tapi memiliki harga yang rendah, masyarakat akan memilih yang itu,” ujarnya.

Untuk itu, Fabby Tumiwa mengusulkan agar pemerintah segera menyederhanakan atau mengurangi jenis BBM di Indonesia. Bahkan, jenis BBM yang dipasarkan perlu dibatasi hanya yang berkualitas baik. Hal ini bisa mengubah pola konsumsi masyarakat terhadap BBM yang lebih ramah lingkungan.

Menurut Fabby Tumiwa, ketika ada pembatasan BBM Premium di Jawa pola konsumsi BBM masyarakat bisa berubah hingga penjualan Pertalite dan Pertamax mengalami kenaikan. Sementara penjualan Dexlite untuk mesin diesel juga mengalami kenaikan.

Selain perlu melakukan pembatasan jenis produk BBM, kata Febby, pemerintah juga perlu menurunkan harga BBM jenis Pertamax atau Dexlite. “Berdasar perhitungan, harga BBM Pertamax dan Dexlite bisa diturunkan kok,” jelas Febby.

 

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *