HeadlineTulisanVideo

Exxon, British Petroleum dan Chevron Rugi Akibat Pandemi: Kenapa Pertamina Bisa Raih Laba Rp 14 Triliun?

0

Dampak pandemi Covid-19 terbukti membuat para elit perusahaan energi di tingkat global pening akibat mengalami kerugian besar hingga ratusan triliun rupiah sepanjang tahun 2020. Exxon Mobile asal Amerika Serikat mengalami kerugian lebih dari USD 22,4 miliar pada 2020, British Petroleum (BP) rugi USD 5,7 miliar, Chevron rugi USD 5,5 miliar.

Sementara PT Pertamina (Persero) justru sukses membukukan laba bersih US$1 miliar atau lebih dari Rp 14 triliun sepanjang tahun 2020. Padahal, pada semester pertama 2020 PT Pertamina sempat merugi sekitar Rp 11 triliun. Kenapa PT. Pertamina bisa berhasil meraih laba, meski ikut terpukul oleh dampak pandemi Covid-19? Kunci keberhasilan ini dijelaskan oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR di Senayan, Jakarta, Selasa (9/2/2021).

Menurut Nicke Widyawati, keberhasilan diraih berkat kerja sinergis dari sektor hulu hingga hilir dan tanpa lay-off atau pengurangan karyawan meski ada pandemi Covid-19. “Meski kinerja tahun 2020 tak sebaik tahun 2019, alhamdulillah bisa membukukukan keuntungan di akhir tahun 2020,” Nicke.

Sementara Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, menjelaskan, berkat berbagai upaya bisa menekan kerugian, bahkan bisa positif di akhir 2020. “Beberapa intervensi memang sudah kita lakukan supaya kita bukukan laba di akhir tahun,” kata Emma.

Menurut Emma, laba yang terhitung ini masih berada dalam posisi belum diaudit kantor akuntan publik (KAP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Namun Emma optimistis laba bersih tahun 2020 itu bisa bertambah besar lagi usai diaudit.

“Jadi di posisi semester I-2020 kita rugi Rp 11 triliun, alhamdulillah di Desember ini in house closing unaudited posisinya membukukan laba US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun,” papar Emma.

Emma sangat bersyukur karena British Petroleum (BP) saja rugi Rp 80 triliun dan Exxon membukukan kerugian hingga ratusan triliun rupiah. “Alhamdulillah bisa laba di tengah pandemi COVID-19. Kalau dilihat, BP bukukan kerugian Rp 80 triliun, Exxon juga ratusan triliun, alhamdulillah kami membukukan positif di akhir 2020,” kata Emma.

Menurut Emma, laba bersih US$1 miliar atau lebih dari Rp 14 triliun pada 2020 yang diraih Pertamina tersebut bisa terwujud berkat berbagai inisiatif yang dilakukan manajemen. “Pertama dari strategi efisiensi dari usaha, biaya operasional, BPP itu yang porsi terbesar sehingga kami bisa bukan hanya positif di bottom line juga prioritas dari capex investasi,” ungkap Emma.

Pada 2020, target investasi Pertamina US$6,4 miliar sebenarnya tidak tercapai dan hanya terealisasi US$4,7 miliar. “Semula US$6,4 miliar, kami lakukan prioritas ulang dan ada beberapa yang tidak terealisasi karena pandemi Covid. Kalau kita lihat naturalnya semua perusahaan migas capex-nya sangat hati-hati,” kata Emma.

Salah satu pendorong kinerja perusahaan sepanjang tahun lalu menurut Emma adalah penjualan gasoline atau BBM yang positif.

“Terima kasih Pak MK (Mas’ud Khamid) karena melakukan marketing strategi yang optimal. Ini juga membantu kontribusi untuk peningkatan laba di akhir 2020, kemudian juga pengakuan marketing fee ini koordinasi dengan SKK Migas dan Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan sehingga bisa menambah revenue 2020,” ungkap Emma.

Dalam data unaudited, penjualan BBM Pertamina sepanjang tahun lalu mampu melebihi target RKAP 2020. Sepanjang tahun lalu penjualan BBM gasoline Pertamina mencapai 80,3 juta Kiloliter (KL) atau diatas target RKAP 2020 76,7 juta KL. Namun realisasi tahun lalu masih dibawah tahun 2019 yang penjualan gasoline mampu mencapai 88 juta KL.

Untuk penjualan BBM PSO realisasinya mencapai 22,87 juta KL dibawat target RKAP 2020 sebesar 23,12 juta KL dan jauh dibawah realisasi 2019 yang mampu mencapai 28,25 juta KL. LPG PSO penjualannya juga mencapai target yakni mencapai 7,16 juta Metrik Ton (MT) atau 5% diatas target RKAP 6,81 juta MT dan diatas realisasi 2019 yakni 6,86 juta MT.

“Dari sisi marketing terlihat peningkatan dari RKAP yang dicanangkan kurang lebih 5% ini yang juga mendukung kontribusi dari setoran revenue lebih besar dari posisi RKAP,” kata Emma.

Selain itu ada juga strategi dalam pembelian minyak mentah maupun BBM yang diolah di kilang. Dengan waktu yang tepat Pertamina bisa mendapatkan harga kompetitif di pasaran. “Strategi time to buy juga dari tempatnya Pak Lete (subholding Refinery and Petrochemical) untuk optimalkan crude price di kuartal pertama. Dan kuartal kedua kami menggunakan strategi time to buy,” ujarnya.

Kemudian dari kilang Intake justru melebihi target RKAP dari posisi year to date, kemudian dari sisi yang yield valuable product nya membukukan efisiensi sehingga menghasilkan produk-produk yang valuable nya lebih tinggi.

Tahun lalu kilang Pertamina mampu menyerap 312 juta barel diatas target 290 juta barel dengan yield valuebale sebesar 78,34% diatas target 75,42%.

Dari sisi hulu atau bisnis upastream sepanjang tahun 2020 produksi dan lifting migas Pertamina mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2019 maupun target yang dicanangkan pada revisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020.

Dalam data unaudited realisasi produksi migas tahun lalu sebesar 863 ribu setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd) atau 3% dibawah target yang ditetapkan sebesar 894 ribu boepd dan dibawah realisasi 2019 sebesar 901 ribu boepd.

Begitu juga dengan lifting migas realisasi dalam data unaudited hanya mencapai 704 ribu boepd sedikit jauh dibawah target RKAP yakni 730 ribu boepd serta realisasi 2019 sebesar 734 boepd. Sementara untuk tambaha cadangan P1 senesar 213 juta barel setara minyak (barrel oil equivalent/BOE) atau 48% diatas target 144 juta BOE.

“Sisi lifting meleset 4% kurang lebih Kemudian dari sisi P1 kurang lebih mengalami peningkatan dari sisi tambahan cadangan P1,” ungkap Emma.

Untuk pendistribusian gas tahun lalu mencapai 303 ribu BBTU diatas target 298 ribu BBTU dan transmisi gas volumenya 459 BSCF masih dibawah target RKAP yakni sebesar 471 BSCF.

Lalu panas bumi produksinya juga positif dan lebih baik dari RKAP yakni 4.618 GwH atau 14% diatas target sebesar 4.045 GwH.

“Kinerja operasional secara umum dapat mencapai target dan beberapa klaster mengalami perbaikan posisi untuk power dan energi terbarukan produksi panas bumi mengalami peningkatan dari sisi kapasitas gwh itu secara umum kinerja operasional dapat mencapai target di 2020,” kata Emma.

Anggota Komisi VI DPR Minta BUMN Tiru Kinerja PT. Pertamina

Previous article

Pertamina Siap Mengonversi Kilang untuk Pengembangan Industri Electric Vehicle

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *