HeadlineTulisanVideo

Kenapa Polusi Udara Berkorelasi dengan Kesehatan Mental? Simak Penelitian Ini

0

Kenapa polusi udara punya korelasi dengan kesehatan mental? Hal ini bisa dilihat berdasar Studi Afif Khan bersama koleganya yang dipublikasikan pada Agustus 2019.

Penelitian yang dilakukan oleh Khan, dkk. itu sejalan dengan riset Susanna Roberts dkk pada 2019 dengan judul “Exploration of NO­2 dan PM­2.5 air pollution and mental health problems using high-resolution data in London-based children from UK longitudinal cohort study”.

Penelitian yang dilakukan oleh Khan, dkk. dan Roberts, dkk. jelas membuktikan bahwa polusi udara tak hanya membawa dampak bagi kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental penduduknya.

Dalam studi Jacob King berjudul “Air pollution, mental health, and implications for urban design: a review” (2018) memaparkan bahwa paparan O3 dan PM2.5 secara terus-menerus bisa mengakibatkan kerusakan neurovaskular. Gangguan pada sistem saraf itulah yang menyebabkan tekanan pada otak manusia.

Temuan ini diperkuat oleh studi Anna Gladka, Joanna Rymaszewska, dan Tomasz Zatonski. Dalam studi yang terbit pada 2018 itu mereka membeberkan mekanisme kerusakan struktur otak akibat kondisi udara yang buruk.

Gladka, dkk. menyebutkan bahwa partikel beracun yang terbawa oleh udara tersebut akan masuk ke dalam saluran pernapasan kita dan turut serta dalam aliran darah ke otak. Akibatnya, partikel yang terakumulasi bisa mengganggu kinerja otak, mengakibatkan kemunculan penyakit seperti Alzheimer atau Parkinson, penyakit yang bisa menjadi faktor risiko dari depresi.

King menambahkan, ada faktor lain yang bisa menjadi pemicu meningkatnya gangguan psikologis pada orang di daerah berpolusi, misalnya penyakit kronis yang diderita akibat paparan udara, serta keadaan emosional yang buruk. Sebab bisa saja, buruknya kualitas udara terjadi akibat kepadatan lalu lintas jalanan atau suara bising mesin-mesin industri.

Jika menilik kasus di Jakarta, pengukuran kualitas udara milik IQAir pada Kamis, 22 Agustus 2019 tertulis bahwa kualitas udara di Jakarta menduduki peringkat kedua terburuk di dunia di angka 159 dan PM2.5 pada angka 71.1 mikrogram/m3.

Jika melihat hasil studi-studi tersebut, sudah semestinya pemerintah terdorong mengatasi berbagai masalah polusi udara di Indonesia supaya tak membawa masalah yang lebih serius.

Punya Modal Rp 80 Juta Kini Bisa Dirikan Pertashop di Pelosok Desa

Previous article

Warga Jakarta Minta Program Langit Biru Dilanjutkan Terus

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *