HeadlineTulisan

Kerugian Dampak Polusi Udara Capai 5% dari PDB, YLKI Desak Penggunaan BBM Ramah Lingkungan

0

Polusi udara di Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia lainnya dinilai sudah membahayakan karena telah mereduksi aspek kesehatan dan kemanusiaan. Bahkan, kerugian sosial ekonomi akibat pencemaran udara di Indonesia mencapai 5% dari produk domestik bruto (PDB). Karena itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah menyediakan BBM yang lebih ramah lingkungan guna mewujudkan program langit biru.

Pokok pikiran tersebut dipaparkan Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, dalam webinar bertema “Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan” yang digelar YLKI dan KBR.

Tulus Abadi menegaskan, mendapatkan lingkungan hidup yang sehat dan bersih merupakan hak asasi warga negara dan hal itu telah dijamin oleh konstitusi dan undang-undang. Untuk itu, kata Tulus, YLKI akan terus mendesak penyediaan BBM yang ramah lingkungan.

Tulus menilai, level polusi udara di Jakarta sudah membahayakan serta mereduksi aspek kesehatan dan kemanusiaan. Hal yang sama juga mengancam kota-kota besar lainnya di Indonesia. Apalagi banyak yang belum memiliki moda transportasi publik yang ramah lingkungan.

“Sektor transportasi darat saat ini berkontribusi paling dominan terhadap polusi, sekitar 75%. Kita tahu, saat ini begitu maraknya penggunaan sepeda motor hingga ke gang kecil. Itu menyebabkan polusi udara dan juga polusi suara,” kata Tulus Abadi.

Menurut Tulus, penerapan wajib uji emisi untuk kendaraan bermotor seharusnya juga paralel dengan penerapaan BBM ramah lingkungan. Karenanya, sangat diperlukan transformasi penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan.

Ia juga mengusulkan perlu adanya insentif harga untuk BBM ramah lingkungan. “Perlu ada transformasi penggunaan BBM yang lebih ramah lingkungan, karena kualitas udara bukan hanya soal pencemaran, tetapi juga mengancam kesehatan kita. Kajian dari Unair (Universitas Airlangga), kerugian sosial ekonomi dari pencemaran udara di Indonesia nilainya 5% dari produk domestik bruto (PDB),” kata Tulus.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *