HeadlineTulisan

Kualitas Udara Yogyakarta Makin Menurun Akibat Emisi Kendaraan

0

Pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor dan transportasi darat di Daerah Istimewa Yogyakarta terbukti menjadi penyebab meningkatnya polusi udara. Sebab, penyumbang terbesar emisi di Yogyakarta berasa dari transportasi darat kendaraan bermotor.

Data polusi udara dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukan selama enam bulan pada 2019, Yogyakarta hanya memiliki 50 hari dengan kualitas udara baik, dan 92 sisanya kualitas udara Yogyakarta terpantau moderat hingga tidak sehat. Sementara dalam laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 2019, kualitas udara di Yogyakarta juga dilaporkan mengalami penurunan dalam kurun waktu lima tahun.

Peneliti Senior Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM), Arif Wismadi mengakui abhwa pertumbuhan motorisasi memang pesat. “Bahkan transportasi darat terbukti sudah menyumbang lebih dari 60% dari total emisi di Jogja,” kata Arif.

Arif mengatakan, kendaraan bermotor masih paling mendominasi menjadi moda transportasi yang digunakan masyarakat. Sedangkan untuk kendaraan tidak bermotor dan pejalan kaki itu jumlahnya sangat kecil.

Menurut Arif, ada beberapa opsi kebijakan untuk mengatasi permasalahan polusi udara tersebut. Pertama yakni dengan mengurangi jumlah jarak perjalanan yang dilakukan oleh masyarakat.

“Sebisa mungkin bisa mengurangi jumlah dan jarak perjalanan. Kalau memang terpaksa harus bepergian sebisa mungkin bisa beralih dengan transportasi yang ramah lingkungan,” ucapnya.

Hal itu perlu didukung oleh hadirnya inovasi teknologi dan efisien kendaraan atau transportasi yang digunakan. Sehingga masyarakat akan lebih tertarik dan aware dengan perpindahan ke moda transportasi yang ramah lingkungan.

Arif tidak menampik bahwa kepemilikan kendaraan bermotor itu adalah hak asasi setiap warga. Namun terkait penggunaannya, kata Arif pemerintah daerah bisa masuk di dalamnya. Artinya pemerintah bisa mengatur atau memastikan penggunaan setiap kendaraan bermotor ataupun yang tidak bermotor sesuai dengan proporsinya. Jika hal itu sudah berjalan maka pemerintah bisa melanjutkan untuk menyusun program yang lebih baik lagi.

Sementara itu Peneliti Litbang Kompas, Nurul Fatchiati, telah menyelenggarakan Survei Persepsi Publik tentang Polusi Udara bersama Jogja Lebih Bike. Hasilnya, 500 responden di Jogja menunjukkan bahwa polusi udara ternyata termasuk dalam tiga isu terpenting bagi warga Jogja.

“Jadi selain penanganan Covid-19 dan kriminalitas ternyata warga Jogja menilai polusi udara menjadi salah satu yang penting. Selain itu 62,5% masyarakat yang tinggal di kota Jogja menilai kualitas udara di lingkungannya tidak baik. Namun diakui mereka tetap memiliki optimisme bahwa kondisi kualitas udara dapat membaik dalam beberapa tahun ke depan”, ungkap Nurul.

Dari data yang sudah dikumpulkan, menunjukkan dalam mobilitas harian, sekitar 88% masyarakat Yogyakarta masih sangat bergantung pada kendaraan bermotor, terutama sepeda motor. Jumlah itu jauh lebih banyak ketimbang warga yang memilih bersepeda atau hanya 2,6 persen saja.

Guna mengatasi peroslan polusi udara ini, komunitas sepeda  Jogja Lebih Bike menjalin kerja sama dengan Nafas – sebuah startup untuk memasang lima sensor kualitas udara di berbagai titik polusi di Yogyakarta yaitu di Gondolayu (Tugu), Sayidan, Umbulharjo, Jembatan Janti dan di kampus UGM.

Piotr Jakubowski, Co-founder dan Chief Growth Officer Nafas, menyatakan data kualitas udara yang dapat diakses secara mudah dan real-time saat ini masih terbatas, padahal data kualitas udara menjadi penting untuk dijadikan acuan bagi masyarakat dalam beraktivitas. Utamanya bagi kelompok sensitif, misalnya anak-anak, orang lanjut usia dan orang dengan penyakit pernapasan.

Kampanye ramah lingkungan ini cukup mendesak karena WHO telah melaporkan bahwa 7 juta kematian prematur terkait polusi udara telah terjadi di seluruh dunia pada 2017.  Makanya, tidak aneh jika PT. Pertamina kini juga gencar mengajak warga pengguna kendaraan bermotor untuk memakai BBM ramag lingkungan di berbagai daerah, termasuk DIY.

Sejak akhir tahun 2020 lalu, PT Pertamina (Persero) menjual Pertalite seharga Premium di  SPBU Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seperti Kota Semarang, Kabupaten Sleman, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Jepara, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Pati, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Klaten.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina Regional Jawa Bagian Tengah, Arya Yusa Dwicandra mengatakan, upaya mengurangi pencemaran udara, dapat dilakukan melalui pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor. “Salah satunya dengan penggunaan BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan,” kata Arya.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *