HeadlineTulisanVideo

Lebih Nyaman Pakai BBM Oktan Tinggi, Warga Sulawesi Tenggara Tinggalkan BBM Premium

0

Bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Premium kini mulai ditinggal oleh warga Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka lebih suka menggunakan BBM lebih berkualitas jenis Pertalite dan Pertamax karena dinilai lebih menguntungkan meski harganya sedikit lebih mahal dari Premium.

Hal ini mendapat tanggapan positif dari Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo, Ramadan Tosefu. Menurutnya, penggunaan BBM oktan rendah sejenis Premium RON88 dapat menimbulkan dampak buruk pada kesehatan akibat tingginya kandungan polutan pada Premium.

Gangguan kesehatan yang bisa timbul akibat penggunaan BBM Premium antara lain akan menyebabkan penyakit kardiovaskuler, anemia, serta gangguan kecerdasan. “Jadi, kami mendorong masyarakat menggunakan BBM berkualitas dan ramah lingkungan. Masyarakat harus cerdas memilih BBM agar tercipta iklim lingkungan yang sehat,” jelas Ramadan Tosefu.

Kecenderungan warga Sulawesi Tenggara meninggalkan BBM Premium sudah tampak sejak tahun 2015 lalu. Data dari BPH Migas menunjukkan bahwa kuota BBM subsidi jenis Premium untuk Provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah habis terjual.

Pada 2015, kuota BBM Premium untuk Provinsi Sulawesi Tenggara hanya dipakai 89,46%. Sedang kuota BBM Premium  pada  tahun 2017 hanya dipakai 74,31% dan kuota BBM Premium  pada  tahun 2018 hanya dipakai 72,36%.

Data BPH Migas: Kuota Premium di Sulawesi Tenggara
Kuota 2015: 289.069 liter, realisasi 258.614,223 (89,46%)
Kuota 2017: 279.958 liter, realisasi 208.049,888 (74,31%)
Kuota 2018: 218.527 liter, realisasi 158.123,000 (72,36%)

Sebaliknya, semenjak BBM jenis Pertalite dan Pertamax mulai disalurkan ke Sulawesi Tenggara, tingkat konsumsi Pertalite dan Pertamax semakin naik tiap tahun. Bahkan, pada tahun 2017 konsumsi BBM Pertalite di Kota Kendari mengalami lonjakan cukup tinggi, yakni mencapai 1.341% atau mengalmi peningkatan sebanyak 14 kali lipat, sedang kenaikan Pertamax mengalami kenaikan 15%.

Senior Supervisor, Komunication, dan Relation Pertamina Regional Sulawesi, Taufik Kurniawan, menjelaskan, pada tahun 2021 ini penggunaan Pertalite di Kota Kendari tercatat paling banyak, yakni mencapai sekitar 70 persen. Sedang konsumsi BBM jenis Pertamax dan Dexlite rata-rata 10 persen. Sementara konsumsi Premium hanya berkisar 28-30 persen. “Jika dibandingkam dengan kota lain di Indonesia, masyarakat Kendari hampir sama dengan kota-kota besar sudah beralih menggunakan Pertalite,” ucapnya.

Pertamina sebenarnya tetap menyediakan BBM jenis Premium sesuai dengan kuota yang ditetapkan pemerintah. Hanya saja, faktanya permintaan masyarakat kini telah didominasi BBM Pertalite. “Untuk stok kita masih menyediakan di terminal BBM Kendari produk Premium tapi kembali lagi itu tadi, apabila masyarakat beralih dan nyaman menggunakan Pertalite,” jelasnya.

Tingginya permintaan BBM Pertalite ini menandakan warga Sulawesi Selatan, terutama Kendari, sudah mengetahui bahwa penggunaan BBM lebih berkualitas justru memberikan banyak keuntungan karena lebih irit, mesin bisa lebih awet dan lebih ramah lingkungan. “Bisa jadi mereka yang masih menggunakan BBM Premium ini tidak teredukasi atau selama masih ada pilihan yang lebih murah mungkin akan dibeli,” tambahnya.

Karena itu, Pertamina tidak henti-hentinya melakukan edukasi kepada masyarakat untuk beralih menggunakan bahan bakar yang lebih berkualitas. “Para pakar lingkungan dan kesehatan banyak yang menjelaskan bahwa penggunaan BBM berkualitas seperti Pertalite sampai Pertamax Turbo dan juga Dexlite, bisa membuat udara lebih bersih dan ramah lingkungan, sehat untuk anak cucu kita,” ujar Taufik Kurniawan

Sementara Sales Branch Manager Sulseltra PT Pertamina (Persero) MOR VII, Mahdi Syafar, mengatakan bahwa penggunaan BBM ramah lingkungan dapat mengurangi risiko kerusakan lingkungan dengan emisi buang kendaraan bermotor yang lebih kecil.

“Semakin tinggi oktan yang dicampurkan, pembakaran mesin akan lebih optimal sehingga emisi buangnya akan lebih kecil dan bisa mengurangi pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Bikin Konsumen Tinggalkan Premium Program Langit Biru 2021 Diperpanjang 6 Bulan

Previous article

BBM Premium Sering Diusulkan Dihapus Karena 5 Alasan Ini

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *