HeadlineTulisanVideo

Mobil Produksi Tahun 2018 Harusnya Pakai Pertamax Turbo, Tapi Ada Toyota Alphard Pakai Premium

0

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dasrul Chaniago, menegaskan bahwa semua kendaraan yang dibeli setelah September 2018 seharusnya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo. Tapi anehnya, pengguna mobil mewah jenis Toyota Alphard ada yang nekat mengisi BBM jenis Premium yang disubsidi pemerintah.

“Ini aneh, apa gak mogok gitu ya? karena teknologinya sudah sangat berbeda,” ujar Dasrul Chaniago saat tampil sebagai pembicara dalam webinar bertema “Mendorong Penggunaan BBM Ramah Lingkungan” yang digelar YLKI dan KBR.

Seperti sering diberitakan, pemilihan BBM seharusnya mengikuti rekomendasi pabrikan. Untuk mesin diesel, harus melihat cetane number yang disarankan pabrikan. Sedang untuk mesin bensin harus melihat research octane number (RON) yang disarankan pabrikan.

Bila pemilihan BBM tidak tepat cetane number (mesin diesel) atau research octane number (mesin bensin), maka mesin bisa cepat rusak karena kinerja mesin tidak optimal. Dampaknya, emisi gas buang bisa tinggi yang bisa mengakibatkan gangguan kesehatan.

Dasrul Chaniago mengungkapkan, berdasar kajian KLHK, kerugian biaya pengobatan penyakit yang ditimbulkan polusi udara di Jakarta mencapai lebih dari Rp 38 triliun setahun. Karena itu, KLHK mengajak konsumen untuk memilih BBM yang tepat sesuai rekomendasi pabrikan.

Berdasar regulasi KLHK, lanjut Dasrul Chaniago, BBM yang dipasarkan di Indonesia seharusnya hanya dua jenis, yakni Pertamax RON92 dan Pertamax Turbo RON98. Sedang untuk BBM mesin diesel seharusnya hanya BBM Dex Series yang dipasarkan.

Menurut Dasrul Chaniago, mobil produksi baru saat ini seharusnya sudah tidak ada mobil yang layak memakai BBM jenis Premium. Namun faktanya, masih ada mobil mewah yang nekat menggunakan BBM subsidi.

Dari sisi regulasi emisi gas buang, kata Dasrul Chaniago, sebenarnya sudah siap. Bahkan, Kementerian Perhubungan dan lembaga terkait juga sudah menyiapkan peralatan uji emisi. Untuk itu, Dasrul Chaniago berharap, Pertamina juga bisa menyiapkan BBM sesuai standar EURO4 dan jalur distribusinya agar dunia industri produsen Gaikindo tidak ragu-ragu dalam memproduksi mobil.

“Jangan sampai mobil yang dipakai berstandar EURO4, tapi tidak ada BBM yang tersedia di pelosok,” papar Dasrul Chaniago.

Apalagi, tambah Dasrul Chaniago, saat ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) siap memproduksi mobil yang dilengkapi dengan OBD, yakni alat pendeteksi BBM onboard. “Bila BBM yang diapakai tidak cocok, mobil akan langsung mogok,” tambah Dasrul.

 

 

 

BBM Indonesia Tergolong Kelompok Paling Tertinggal di Dunia, Pertamina Genjot Program Langit Biru

Previous article

Program Komputer Operational Data Repository Hasil Inovasi Pertamina EP Raih Sertifikat HAKI

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *