HeadlineTulisanVideo

Pola Konsumsi BBM Kotor Perlemah Daya Saing, Indonesia Perlu Melompat Terapkan EURO6

0

Pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat Indonesia yang masih gemar menggunakan BBM kotor di bawah standar EURO4 bisa menimbulkan dampak buruk berantai cukup buruk di masa datang. Selain mencemari lingkungan dan menimbulkan gangguan kesehatan, tingginya konsumsi BBM kotor di bawah standar EURO4 tersebut juga akan menyebabkan daya saing bangsa jadi lemah.

Salah satu dampak buruk yang sudah terlihat adalah lemahnya daya saing industri otomotif Indonesia di pasar global. Untuk itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengusulkan agar Indonesia langsung melompat menerapkan ke standar EURO6 guna mengejar ketertinggalan Indonesia.

Pokok pikiran tersebut diungkap Ketua YLKI, Tulus Abadi, dalam diskusi publik virtual bertema “Penggunaan BBM Ramah Lingkungan” yang digelar YLKI bersama KBR.

Tulus Abadi menegaskan, YLKI akan terus mendesak pemerintah agar konsisten menjalankan kebijakannya di ranah nasional dan global dalam menurunkan emisi karbon sesuai Protokol Paris 2015 yang telah ditandatangani Presiden Jokowi.

Terjadinya perubahan iklim yang telah menimbulkan aneka bencana alam, cuaca tak menentu, dan pandemi penyakit dewasa ini tidak lepas dari tingginya pola konsumsi masyarakat terhadap energi fosil berkualitas rendah. “Untuk itu kita mendorong untuk menggunakan BBM yang ramah lingkungan,” jelas Tulus.

Menurut Tulus, BBM Premium sudah saatnya ditinggalkan karena dunia internasional kini sudah tidak menggunakan lagi BBM dengan RON rendah sekelas Premium. Disebutkan, kadar sulfur BBM di Indonesia sebagian besar masih terlalu tinggi dan tak sesui dengan standar EURO4 yang telah ditetapkan dalam Permen LHK No.20 tahun 2017.

Berdasar Permen LHK No.20 tahun 2017, kadar sulfur BBM maksimal hanya 50 ppm. Untuk memenuhi standar EURO4 di Indonesia, kata Tulus, sebenarnya cukup mudah, yakni cukup meng-upgrade Pertalite dari RON90 menjadi BBM RON91 dengan kadar sulfur maksimal 50 ppm. Sedang untuk BBM diesel minimal menggunakan cetane number 51.

Namun kadar BBM di Indonesia masih mencapai 500 ppm. Tingginya kadar sulfur inilah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Selain mengakibatkan kerusakan lingkungan, tingginya konsumsi BBM kotor di bawah standar EURO4 tersebut juga menyebabkan daya saing bangsa jadi lemah.

Contoh konkritnya adalah lemahnya daya saing industri otomotif Indonesia di pasar global. Di ASEAN kini sudah menerapkan standaer EURO4, tapi di Indonesia masih berkutat pada EURO2. Akibatnya, otomotif Indonesia kalah bersaing di pasar global. Ketika Presiden Jokowi ingin mendorong ekspor otomotif ke Vietnam, diminta harus menerapakan standar EURO4.

“Sementara otomotif Indonesia mayoritas masih menerapkan EURO2. Jadi industri otomotif kita hanya jadi jago kandang. Kalah bersaing di pasar global,” ujar Tulus.

Untuk itu, dalam diskusi ini Tulus Abadi mengusulkan agar Indonesia segera mengejar ketertinggalan dengan langsung melompat menerapkan standar EURO6. Tulus mengakui, aturan Permen LHK No.20 tahun 2017 sudah bagus karena menerapkan EURO4, tapi negara-negara ASEAN kini sudah mulai siap-siap akan beralih ke EURO6. “Makanya ada dorongan agar kita langsung melompat ke EURO6,” tegas Tulus.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *