HeadlineTulisan

Polusi Udara Picu Timbulnya Penyakit Tuberkulosis, Kerugiannya 136,7 Miliar per Tahun

0

Perilaku hidup masyarakat perkotaan yang tidak ramah lingkungan akan membuat polusi udara makin meningkat. Dampak buruk dari polusi udara itu tentu akan kembali kepada mayasrakat sendiri, salah satunya bisa memicu timbulnya gangguan kesehatan berupa serangan penyakot tuberkulosis (TB/TBC).

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menegaskan, total kerugian ekonomi akibat penyakit TB adalah sekitar 136,7 miliar per tahun.

“Orang dengan TB-MDR (multi-drug resistant) diperkirakan akan kehilangan pendapatan sekitar 38 sampai 70 persen dari yang seharusnya,” kata Muhadjir Effendy dalam Puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021 secara virtual.

Disebutkan, timbulnya penyakit tuberkulosis ini sering dikaitkan dengan faktor risiko dari lingkungan seperti polusi udara, asap rokok, kepadatan, pencemaran, serta buruknya sanitasi lingkungan.

“Pada kenyataannya TB menyerang siapa saja. Tidak hanya memilih dari kalangan ekonomi rendah. Bisa kena siapa saja. Bahkan saya menemukan seorang konglomerat muda yang saya kenal baik meninggal. Saya sangat kaget diberitahu oleh keluarganya bahwa ternyata dia penyintas TB.”

Karena itu, kata Muhadjir, pemerintah Indonesia kini tengah menggodok Peraturan Presiden (Perpres) terkait Penanggulangan Tuberkulosis.

Seperti diketahui, berbagai hasil riset menunjukkan bahwa polusi udara bukan hanya bisa menimbulkan penyakit tuberkulosis saja, tapi juga binimbulkan gangguan kesehatan lainnya.

Menurut WHO (World Health Organization), polusi udara membunuh sekitar tujuh juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Sekitar 9 dari 10 orang menghirup udara yang mengandung polutan tingkat tinggi.

Presiden Health Effect Institute dan Greenbum menyebut, polusi udara juga menyebabkan berat badan rendah, lebih rentan terkena infeksi dan peneumia. Selain itu paru-paru bayi kemungkinan tidak dapat berkembang secara sempurna.

Pengadilan Koroner (Coroner Court) Southwark di London menemukan bahwa polusi udara “memberikan kontribusi material” terhadap kematian Ella Adoo-Kissi-Debrah yang masih berusia sembilan tahun.

Advokat Publik, David Wolfe QC, mengatakan, “Meskipun keputusan ini tidak memiliki dampak yang mengikat di pengadilan lain. Keputusan ini tetap penting sebagai pengakuan hukum formal pertama mengenai polusi udara yang berkontribusi pada kematian individu tertentu.”

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *