HeadlineTulisan

Warga Krayan Sungguh Mulia, Tak Mau Bergantung LPG Subsidi

0

Warga dataran tinggi Krayan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara termasuk memiliki harga diri tinggi dan tergolong sangat terhormat. Kenapa demikian ? Meski daerahnya tergolong dalam wilayah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) di perbatasan Indonesia dan Malaysia, mereka tidak mau bergantung pada LPG subsidi dalam memenuhi kebutuhan energinya.

Mereka pilih menggunakan LPG non-subsidi berkualitas jenis Bright Gas 12 kilogram, meski harganya sempat naik hingga mencapai Rp 1.400.000. Karena itu, PT. Pertamina sangat menghormatinya dan rela mengerahkan pesawat terbang hanya untuk mengangkut LPG Bright Gas ke Krayan.

Anggota Komisi VI DPR RI, Deddy Yevri Sitorus, sangat menghargai langkah cepat Pertamina dalam mengatasi kelangkaan gas LPG di wilayah perbatasan itu dengan mengirimkan LPG melalui transportasi pesawat terbang. Langkah cepat ini sesuai dengan nawa cita Presiden Joko Widodo “Ini bukti kehadiran negara ketika dibutuhkan warga di daerah perbatasan,” ujarnya.

Wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalimantan Utara itu menygatakan, kawasan dataran tinggi Krayan memiliki lima kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Daerahnya termasuk terisolir karena tidak ada jalan darat dan laut atau sungai yang layak dilewati transportasi dengan beban berat. Makanya sebagian kebutuhan masyarakat di wilayah itu dipenuhi dari negara tetangga.

Hanya saja, kata Deddy, sejak pandemi Covid-19, Malaysia menutup perbatasannya sehingga menyebabkan kelangka LPG dan melonjaknya harga barang kebutuhan masyarakat di wilayah itu. Bahkan. harga gas LPG 12 kilogram di wilayah Krayan mencapai Rp 1.400.000. Kondisi ini sudah berjalan satu tahun dan sangat memberatkan masyarakat hingga banyak yang kembali menggunakan kayu sebagai bahan bakar.

Setelah mengetahui hal itu pada reses bulan Februari 2021,, Deddy segera menghubungi PT. Pertamina. “Masalah ini lalu saya komunikasikan kepada Dirut Pertamina dan memohon agar ada perhatian terhadap daerah terluar yang baru tahun lalu dikunjungi Presiden itu. Untunglah permohonan itu direspons dengan sangat cepat oleh Pertamina,” kata Deddy.

Mendapat informasi itu, Pertamina segera mengerahkan pesawat Pelita Air Service untuk mengirimkan gas LPG secara rutin ke Krayan yang dimulai pada 9 Maret 2021. “Hanya dalam waktu tidak sampai dua pekan, Pertamina langsung merespons permintaan masyarakat untuk menyediakan LPG bagi rakyat di perbatasan, ini luar biasa,” ujar Deddy

Menurut Deddy, Pertamina berkomitmen mengirimkan 1.000 tabung LPG 12 kilogram non subsidi (NPSO) per bulan, dengan total biaya pengiriman yang tidak kecil. Yang menarik, harga jual LPG Bright Gas 12 kilogram yang ditetapkan Pertamina ternyata jauh lebih murah dari LPG Malaysia.

Harga LPG Bright Gas 12 kilogram baru hanya Rp 400.000, sedang harga isi ulang sekitar Rp 200.000 per tabung LPG 12 kilogram. “Ini harga yang sama dengan harga di daerah lain dan bahkan lebih murah dari harga di Malaysia yang mencapai Rp 1.000.000 untuk tabung baru dan mencapai Rp 400.000 untuk isi ulang,” ujar Deddy.

Karena itu, masyarakat Krayan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pertamina dan Kementerian BUMN. “Komitmen mereka untuk negara dan masyarakat sangat luar biasa,” sambungnya.

Padahal, untuk mengirimkan tabung gas menggunakan pesawat terbang itu sangat rumit, serta risiko dan biayanya sangat tinggi. “Mungkin di Indonesia atau bahkan di dunia, ini adalah pertama kalinya distribusi gas LPG masyarakat dilakukan melalui udara,” tandas Deddy.

Deddy berharap Menteri BUMN mendorong BUMN lain untuk berkontribusi meringankan beban masyarakat di daerah perbatasan. Selain itu, jumlah tabung gas yang dikirim juga diharapkan diperbanyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dan juga mengirimkan tabung gas 5 kilogram sehingga jumlah keluarga yang mendapatkan bisa lebih banyak dan harganya lebih terjangkau.

Deddy juga berharap Kementerian Perdagangan dan Kementerian Sosial juga turun tangan membantu meringankan beban warga di daerah perbatasan. Tidak hanya di Krayan, tetapi wilayah lain di perbatasan seperti wilayah Long Nawang (Kabupaten Malinau) dan Lumbis (Kabupaten Nunukan) yang selama ini sangat tergantung pada pasokan dari negara jiran.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *